Rahasia Antara Aku dan Ibu

x
0


Aku mulai sering memperhatikan ibuku karena setiap kali menjemputnya dari tempat senam, beliau tidak langsung berganti pakaian. Ibuku pulang dengan tetap mengenakan baju senam ketatnya, baru mandi dan berganti baju setelah tiba di rumah. Setiap hari melihat ibuku dengan pakaian yang begitu membentuk tubuh, pikiranku mulai melayang ke hal-hal yang seharusnya tidak terpikirkan tentang tubuh ibuku sendiri. Bagaimana tidak, baju senam itu sangat ketat, menonjolkan bentuk dada yang indah dan bokong yang masih kencang serta berisi.

Suatu hari aku terlambat menjemput ibuku. Saat sampai, beliau tidak ada di ruang senam biasa. Setelah bertanya pada teman ibuku, katanya ibuku sedang di sauna dan menyuruhku menunggu di dekat ruangan sauna yang tidak jauh dari situ. Aku segera bergegas ke sana karena tidak ingin ibuku menunggu terlalu lama. Begitu sampai, aku terpana. Ibuku baru keluar dari ruangan sauna hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Handuk itu hanya menutupi bagian dada, perut, dan sedikit paha atas. Paha ibuku yang mulus dan putih terlihat jelas sekali. Aku hanya bisa terdiam, menelan ludah, saat ibuku mendekat dan bilang agar aku menunggu sebentar. Lalu beliau membalikkan badan dan berjalan menuju ruang ganti. Aku melihat goyangan pinggulnya yang lembut saat berjalan. Tanpa sadar, tubuhku bereaksi kuat melihat pemandangan itu. Aku yakin hampir semua pria akan terpikat melihat ibuku seperti itu.

Di perjalanan pulang, aku banyak diam dan sesekali melirik ibuku yang duduk di samping. Setiap mobil melewati jalan bergelombang atau polisi tidur, aku melihat dada ibuku bergoyang pelan di balik kaos oblong yang agak ketat dan celana panjang yang membentuk tubuh. Setiap kali melirik paha ibuku, bayangan paha mulusnya di sauna tadi kembali muncul di kepalaku. “Bob… kok kamu diam saja, dan kenapa celanamu begitu?” tanya ibuku tiba-tiba, membuatku tersentak dari lamunan. “Enggak, Mi… enggak apa-apa,” jawabku gugup. Kami sampai rumah agak malam karena aku terlambat menjemput.

Sesampainya di rumah, ibuku langsung masuk kamar. Sebelum masuk, beliau mencium pipiku dan mengucapkan selamat malam. Malam itu aku tidak bisa tidur, terus membayangkan tubuh ibuku. Dalam hati aku bergumam, “Ini ibuku… tapi…” Akhirnya aku menyerah pada pikiran itu. Aku mencoba menenangkan diri sendiri agar bisa tidur, tapi hasratku justru semakin kuat. Aku ingin merasakan ibuku. Perlahan aku keluar kamar, berjalan menuju kamar ibuku di lantai bawah. Adikku dan pembantu sudah tidur, jam sudah menunjukkan pukul satu malam.

Aku berdiri di depan pintu kamar ibuku, jantungku berdegup kencang. Kuputar kenop pintu perlahan. Ibuku tidur terlentang dengan posisi yang terlihat begitu menggoda, hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek yang agak longgar. Aku mendekat ke sisi ranjang, memperhatikan ibuku yang tidur nyenyak. Tubuhku sudah bereaksi sangat kuat.

Dengan tangan gemetar aku naik ke ranjang, lalu mulai membelai paha ibuku yang putih mulus. Perlahan tanganku menelusuri ke atas. Aku membuka celanaku karena rasa sesak sudah tidak tertahankan. Aku mencium leher dan bibir ibuku perlahan, lalu meraba dadanya yang besar dan masih kencang. Aku meremasnya pelan, tapi karena hasratku sudah memuncak, remasanku menjadi lebih kuat.

Tiba-tiba ibuku terbangun. “Bobi… kamu… apa yang kamu lakukan? Aku ibumu, sayang…” suaranya pelan. Aku kaget setengah mati, tapi anehnya tubuhku tidak langsung melemas. Malah aku semakin nekat. Aku terus mencium lehernya dengan penuh gairah sambil meremas dadanya. Dalam pikiranku hanya ada dua kemungkinan: melanjutkan atau berhenti selamanya. “Cukup, Bobi… hentikan, sayang…” kata ibuku. Tapi yang membuatku heran, ibuku tidak benar-benar menolak atau melawan. Bahkan bibirnya membiarkan aku menciumnya, dan aku mendengar desahan pelan saat aku mencium leher dan belakang telinganya. Aku merasakan paha mulus ibuku menekan tubuhku.

“Sayang… kalau kamu memang ingin… bilang saja terus terang. Mami… mau kok…” ucap ibuku di sela desahannya. Aku terkejut. Ternyata ibuku tidak keberatan. Aku melepaskan ciuman di lehernya, lalu berlutut di sampingnya. Ibuku tersenyum melihat tubuhku yang sudah sangat tegang. Aku masih meremas dadanya sambil membuka kaos dan bra yang dipakainya. Dadanya terlihat indah, besar, dan masih kencang untuk usianya. Aku meremas dan menciumnya dengan penuh gairah. Ibuku mendesah keenakan.

“Bob… kamu dulu juga minum susu ibu seperti ini…” kata ibuku sambil tersenyum, matanya setengah terpejam karena kenikmatan. Ibuku mengangkat pinggul saat aku menarik celana pendeknya. Aku melihat pakaian dalamnya sudah basah. Aku menciumnya di bagian paling intim, lalu menariknya perlahan. Pemandangan di hadapanku begitu memikat. Aku membuka pahanya lebar-lebar, lalu mencium dan menjilat bagian itu dengan penuh perasaan. Ibuku bergetar, mendesah keras, dan menekan kepalaku lebih dalam.

Ibuku menggelinjang hebat, tubuhnya mengejang, lalu mencapai puncak kenikmatan. Aku merasakan cairan hangat keluar, dan aku terus memanjakannya hingga beliau terlihat lelah. Dengan suara lemah ibuku berkata, “Sayang… sini, Mami mau memanjakanmu…” Aku mendekatkan tubuhku ke wajahnya. Ibuku membelai bagianku dengan lembut, tapi tidak langsung memasukkannya ke mulutnya. Karena sudah tidak tahan, aku mendorong pelan, dan akhirnya aku merasakan kehangatan mulut ibuku. Gerakannya cepat dan penuh semangat. Tak lama kemudian aku mencapai puncak dan melepaskan semuanya di dalam mulutnya. Ibuku menelan sebagian, lalu membersihkan sisa-sisanya dengan lembut sambil tersenyum.

Ibuku kembali berbaring, membuka pahanya lebar-lebar, dan tersenyum penuh arti. Aku mengambil posisi di antara pahanya. Dengan tangan gemetar, ibuku menuntunku hingga aku masuk ke dalam kehangatannya. Sensasi yang kurasakan luar biasa. Meski aku pernah bersama orang lain, rasanya dengan ibuku jauh berbeda, begitu nikmat. Kami bergerak bersama, naik-turun, berganti posisi, hingga ibuku kembali mencapai puncak dengan goyangan yang liar. Tak lama kemudian aku pun melepaskan semuanya di dalamnya.

Setelahnya kami berpelukan, berciuman mesra seperti sepasang kekasih, lalu tertidur kelelahan.

Pagi harinya ibuku sudah bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan bersama adikku. Beliau bersikap biasa saja, seolah malam tadi tidak terjadi apa-apa. Aku pun berusaha bersikap normal. Seperti biasa aku menjemputnya dari senam. Di perjalanan pulang kami mengobrol pelan tentang apa yang terjadi malam sebelumnya dan berjanji menjaga rahasia ini hanya antara kami berdua.

Suatu saat di jalan yang sepi dan agak gelap, ibuku menyuruhku menepi. Dengan penuh gairah beliau menciumku, lalu memanjakan bagianku dengan mulutnya hingga aku mencapai puncak lagi. Ibuku menelan semuanya dengan senyuman. Kami berciuman, melanjutkan perjalanan pulang, lalu tidur bersama dan melanjutkan keintiman kami hampir setiap malam.

Sebulan kemudian ibuku merasa hamil. Beliau bilang sebelum bersamaku, sudah lebih dari tiga bulan tidak bersama ayahku karena ayah sangat sibuk dengan pekerjaan. Ibuku yakin itu anakku karena tidak ada pria lain. Akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri kehamilan itu karena tidak ingin memiliki bayi dari hubungan ini. Meski begitu, hubungan kami terus berlanjut secara diam-diam, hanya kami berdua yang tahu, setiap kali adik dan pembantu sudah tidur.


Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)
To Top